Thursday, 16 March 2017

Langkah pagi

Meneguk kemarau dari rendezvous keterasingan
Salju yg dihembuskan angin Bulan maret
Langkah2 bergegas..

Seakan Surya berlari meninggalkan
Terik mu pagi ini seperti cahaya di tengah malam
Seperti cinta bayi pada ibunya
Seperti cerita cerita pandawa
Atau penggalan roman sua di pencarian.
Entah menjadi apa.. Siapa dan kemana.?!?!
Aku tetaplah diriku menjadi Aku..


Selalu ada asa

Mengeja langkah
Dari rangkaian musim yang ke sekian
Jejak kaki adalah kisah
Yang tak tuntas oleh kesah

Sejumput ingatan melayang
Iringi mega yang temaram
Perpaduan bulan
Dan kerlip lampu jalanan

Dia yang hadir saat ini
Mungkin akan pergi nanti
Dia yang cinta
Suatu saat kan tiada
Dia yang mengembara
Kan pulang ke haribaanNya

Di kejauhan...
Sesosok asa mencoba berdiri
Menolak dikata, 'Kau tlah renta! '
Walau mata tlah lamur
Dan kaki penuh bilur

Jalan boleh berliku tajam
Namun tak mustahil dilalui
Bukit boleh tinggi menjulang
Namun tak mustahil didaki

Tuesday, 7 March 2017

Coming back

Assalamualaikum..
Subhanallah.. jejak pertama setelah sekian tahun tidak menginjakkan kaki di dalamnya. Satu, karena tidak sempat. Dua, sesungguhnya saya lupa email masuknya, jadi sempat mengalami kegagalan 'log in' berkali kali. 

Resolusinya adalah, tidak akan meninggalkan terlalu lama. Ada banyak cerita yang berputar di kepala.
Tunggu tanggal mainnya ya..

Sekarang masih kembali terburu-buru. Anak2 sudah selesai ngaji.
See you.. Wassalamualaikum..

Saturday, 27 September 2014

Getir..

Kau getirku..
Yang kutabung dalam kelam
Hingga bulan bintang hadir
Kau pun tetap matahari
Tak pudar sinarmu
Tak hilang hangatmu...

Kau getirku..
Selaksa perjalanan penuh onak
Luka perih adalah lukisan sunyi
Kau tetap setaman bunga mewangi
Penuh warna...

:)

Tuesday, 2 September 2014

Kering...

Pohon-pohon masih tinggi menjulang, namun tak lagi menaungi
Sungai-sungai masih meliuk memanjang, namun tak lagi mengaliri
Petak-petak sawah meluas membentang, namun ke mana padinya pergi?

Berdiri saung terdiam di tengah pematang
Mengenang senyum ibu petani yang membawa bakul dan rantang

Pekat akan sepi...
Lekat akan sunyi...
Bagai tandus yang menanti setitik gerimis yang emnyirami.

Ibu ...
Kering semaian rindu kasih ananda
Serasa lupa bahwa ia pernah ada
Gersang menggarang menggapai asa
Melihat wajah-wajah kasihnya memalingkan muka
Ibu Pertiwi..
Yang luput akan buai, kenyang akan onak dan duri
Tak lelah berharap kita menanam tuk esok hari..

280814