Berdiri..
Menyibak guguran yang menyelimuti
Setapak yang kulalui
Menatap..
Bayang yang menari
Di antara celah mahoni
Mungkinkah aku bermimpi?
Saat dia begitu dekat..
Begitu lekat..
Selalu ada
Satu langkah mendekati
Bagi dia yang berani
Menghirup aroma surgawi..
(One step closer, 23 mei e0we)
Kata dalam Nada
Hanya sebuah rumah kecil
Thursday, 24 May 2012
Monday, 21 May 2012
Rindu
Bukan rindu jika tak bisa memberi energi yang berlipat ganda. Jadi, mari kita bertransformasi. :))))
Wednesday, 9 May 2012
KARMA
Mendengar kata ‘Karma’. Apa itu ‘Karma’? Masih adakah ‘Karma’?
Sempat menyimak dalam suatu pengajian, sejak jaman Nabi Muhammad saw, karma
sudah dihapuskan, itu janji Allah swt. Yang ada adalah doa orang baik dan doa
orang teraniaya. Dan saya percaya ini.
Tapi berita semalam benar2 membuat saya berfikir tentang
hukum yang sangat cepat ini.
Saya akan memulainya dari sebuah kisah, nyata, dan ada di
lingkungan saya sendiri.
Alkisah, ada sepasang suami istri yang cukup terpandang. Baik
dan kaya raya. Rumah beliau menjadi salah satu yang terbaik di kampung saya.
Keadaan yang lengkap seandainya mereka mempunyai keturunan. Tapi tidak. Mereka tidak
diberi mandat untuk mengasuh anak sendiri. Jadilah mereka mengadopsi seorang
anak, wanita.
Seiring berjalannya waktu, si anak wanita tumbuh dewasa. Ini
kisah nyata, tapi mudah-mudahan tidak terasa sangat berlebihan ketika saya
mengatakan, setelah dewasa anak wanita ini ternyata tumbuh menjadi anak yang
culas. Bukan hanya kurang berbakti pada orang tua angkatnya. Bahkan ketika
mengetahu ternyata masih punya orang tua
kandung dengan keadaan yang memprihatinkan, dia sangat malu dan sempat mengusir
dari rumahnya.
Kemudian dia menikah, dengan seorang pengusaha, dan
mempunyai beberapa anak wanita.
Mungkin waktu berjalan terlalu cepat ketika roda mulai
berputar ke bawah. Setelah orang tua angkatnya meninggal. Sendiri di dalam
kamar, karena dengan alasan kesibukan dia jarang bisa menunggu. Usaha suaminya
mulai bangkrut. Panggilan untuk mengerjakan proyek berkurang, dan imbas dari
krisis ekonomi menyebabkannya kehilangan pekerjaan. Tapi dia tidak berkecil
hati. Dengan rumah orang tua yang dia punya, dan modal yang ada, dimulailah
membuka usaha fotokopi dan toko alat-alat tulis di rumahnya. Tapi entahlah,
sepertinya itu tidak berjalan lancar. Beberapa lama berjalan, toko itu ditutup.
Untuk menyambung hidup, kemudian mereka berdamai dengan ‘ruang’.
Dan mulai merelakan beberapa kamar di rumahnya untuk disewakan.
Begitulah cerita selama beberapa tahun. Rumah itu menjadi
rumah kos beberapa orang. Sampai semalam, ada berita mengejutkan, kalau pada hari ini, pihak kepolisian akan mengeksekusi rumah itu
dengan segala isinya, dikarenakan si pemilik memiliki hutang puluhan juta
rupiah yang tak bisa dilunasi. Dan seluruh penghuninya, harus meninggalkan
rumah hari itu juga.
Ya Allah.. ini mungkin bukan hukuman, akibat selalu bermula dari perbuatan.
Wednesday, 11 April 2012
Sehening hembus angin pantai malam hari, segalau ombak yang memecah karang bergerigi, kotak kaca menelan segala bunyi..
Wednesday, 28 March 2012
Loncatan
“Assalamualaikum .. Dengan Ibu Dyah?” suara seseorang di kejauhan.
“Waalaikum salam wr wb. Dalem*, Pak..” (*saya, Pak..)
“Ini dari pondok, Bu. Bergabung di sini ya..”
“Alhamdulillah..”
Berseru saya tanpa bisa mengucapkan apa-apa lagi. Sungguh, itu berita paling melegakan yang bisa saya dengar belakangan ini. Setelah serangkaian tes panjang, ketegangan penantian, dan deraian air mata sehari sebelum diumumkan. Akhirnya Tuhan menjawab doa selama ini. Ya. Sepulang dari Brisbane akhir tahun 2011 lalu, saya memang berharap untuk dapat kembali bekerja, mengekspresikan ilmu dan jiwa saya. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial, tapi lebih dari itu, sebagai jalan penyaluran energi dan ekspresi.
Bersyukur, Tuhan menunjukkan jalannya. Di sebuah koran saya membaca informasi. Pekerjaan yang memang saya cintai sejak dulu. Menjadi Guru Fisika SMP dan SMA. Haha.. sederhana, bukan? Tapi menjadi tidak sederhana ketika kita berada pada kondisi yang tidak tepat, kalau boleh dikatakan, terlambat.
Jika diingat-ingat, tiga tahun sudah meninggalkan buku-buku ilmiah. Sibuk menenggelamkan diri dalam kegiatan sehari-hari. Buku yang dibacapun buku-buku bertema sastra, agama, dan filsafat. Hal yang sama sekali berbeda dengan keilmuan saya. Hampir-hampir saya bertransformasi, menjadi pujanggawati, atau penulis kisah-kisah sejati. Tapi, hati nurani memang tak bisa dipungkiri. Membuka kembali Ilmu Fisika, seperti bertemu seorang sahabat yang lama tak jumpa. Sangat akrap. :D
Ok, anggap saja ini babak baru. Dan memang akan sangat baru.Tidak tanggung-tanggung perbedaan kondisi yang akan saya masuki. Bukan di sekolah umum. Tapi di sebuah Pondok Pesantren Modern. Saya yang seumur-umur belum pernah memasuki Pesantren, sekarang menjadi bagian darinya, menjadi guru pula. Semoga ini jalan yang bisa membuat saya menjadi lebih dekat padaNya. Amin..
Masih ingat wawancara dengan Kepala Sekolahnya. “Maaf Ibu.. karena ini pesantren, jika Ibu diterima nanti, saya harap bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini.”
Masih ingat wawancara dengan Kepala Sekolahnya. “Maaf Ibu.. karena ini pesantren, jika Ibu diterima nanti, saya harap bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini.”
Saya sudah menduga. Ini pasti soal penampilan saya. Melihat mereka dengan jubbah-jubbah panjang nan anggun, saya jadi melirik penampilan sendiri. Atribut khas, pegawai kantoran. Celana panjang hitam, hem hitam ditambah blazer coklat muda, kerudung hitam yang saya masukkan dalam blazer, dipadu scraff coklat tua yang meliliti leher saya. Haha..nggak banget deh!
Tapi saya bersyukur, jika ini memang jalanNya, ikhlas, saya akan memperbaiki penampilan saya.
Malam itu saya jadi membuka lebar almari pakaian saya. Memilah-milah. Astaga.. ternyata memang tak ada baju panjang sama sekali. Jeans, jeans, jeans,… dan jeans. Sadar, sepertinya memang perlu renovasi isi almari besar-besaran.:D *susun jadwal belanja baju panjang*
Sekian cerita hari ini. When your mind says give up, hope whispers one more try.
See you.. ^^..
Subscribe to:
Posts (Atom)